Contoh Naskah Drama Tentang Pendidikan Untuk 3 Orang

Naskah Drama Tentang Pendidikan3 Orang Pemeran - Besarnya jasa guru tidak patut dipertanyakan lagi. Mengajar hingga para siswanya pintar, mendidik sampai akhlak muridnya benar, semua dilakukan oleh guru. Guru itu pengganti orang tua di sekolah. Maka sudah sepantasnya guru selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk para muridnya.

Tema: Pendidikan

Judul:Guru Hebat

Pemeran: 

1. Bu Rahma
2. Bu Agustin
3. Andini

SINOPSIS DRAMA

Andini adalah murid kelas 6 yang baru pindah ke Surabaya. Sebelumnya, ia bersama keluarganya berada di pedalaman Ambon karena ayahnya bertugas di sana. Saat sekolah di Surabaya, Andini banyak bercerita tentang sekolah lamanya kepada Bu Agustin, wali kelasnya. Bu Agustin sangat tertarik pada cerita Andini. Ia juga mengagumi Bu Rahma yang terkenal hebat di sekolah Andini.

NASKAH DRAMA

Andini terlihat membantu Bu Agustin membawakan buku ke ruang guru.
Andini : “Bu, Bu Agustin, di sini muridnya banyak banget ya Bu. Saya hitung satu kelas ada lebih dari 40 siswa.”
Bu Agustin : “Memangnya berapa jumlah murid di sekolah lama Andini?”
Andini : “Kalau 40 siswa itu sudah jumlah keseluruhan murid di sekolahku dulu Bu.”
Bu Agustin : “Oh begitu. Bagus dong, di sini kamu dapat teman lebih banyak.”
Andini : “Iya Bu. Ruang kelasnya juga masih sangat sederhana. Tapi walaupun begitu, semangat belajar teman-teman Andini tidak kalah dengan teman-teman di sini Bu. Hanya saja...”

Kalimat Andini tiba-tiba terputus.
Bu Agustin : “Hanya saja kenapa Din?”
Andini : “Sayang banget buku-bukunya tidak selengkap di sini. Hanya satu lemari tidak terlalu besar yang terletak di depan ruang guru. Tidak ada perpustakaan.”
Bu Agustin : “Lho... apa tidak ada bantuan Din?”
Andini : “Maklum Bu, daerah pedalaman sangat sulit dijangkau.”

Bu Agustin manggut-manggut mengerti. Keduanya sampai di ruang guru, tapi Bu Agustin tiba-tiba meminta Andini untuk duduk di depan meja kerjanya.

Andini : “Ada yang perlu Dini bantu lagi Bu?”
Bu Agustin : “Ibu tertarik dengan ceritamu bersekolah di pedalaman Ambon itu. Ibu ingin, kamu menuliskan apapun di kertas ini tentang apa yang menjadi pengalamanmu menjadi murid di sana. Tulislah apapun yang membuatmu tertarik, terharu, maupun pengalaman menyedihkan.”

Bu Agustin lalu menyerahkan sebuah kertas HVS kosong dan sebuah pen. Mulailah Andini menulis.

Nama saya Andini Nasution. Saya akan bercerita tentang pengalaman saya bersekolah di pedalaman Ambon. Perhatian pertama saya adalah teman-teman sekelas saya. Mereka murid-murid yang amat tangguh. Bagaimana tidak, sebagian besar dari mereka harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya. Oleh karena itu mereka baru akan mengenakan sepatu setelah sampai di sekolah. Perhatian kedua saya adalah sekolah saya sendiri. Sekitar 5 tahun lebih saya bersekolah di tempat itu. Bangunannya amat sederhana. Dalam satu kelas hanya ada kurang lebih 7 bangku kayu untuk murid dan 1 bangku guru, 1 almari, dan 1 papan tulis hitam. Perhatian ketiga saya adalah buku-buku sekolah kami yang saya rasa kurang lengkap. Padalah semangat membaca teman-teman di sana sangat lumayan. Mereka banyak yang suka membaca dongeng, dan ilmu pengetahuan alam. Mereka suka penasaran dengan benda-benda langit. Tak heran jika hampir semua murid di sekolah kami sudah hapal 9 planet di tata surya. Sementara itu, perhatian terakhir saya adalah Bu guru Rahma. Konon Bu Rahma inilah yang merintis sekolah itu. Sekarang usia beliau sudah menginjak 65 tahun, tapi beliau masih mengajar kelas 6. Ada yang unik dengan cara mengajar Bu Rahma. Setiap pulang sekolah, beliau selalu membagikan satu kertas kosong, kemudian menyuruh para muridnya untuk menulis kisah hidup masing-masing. Kata Bu Rahma itu adalah Diary murid-muridnya. Kami diinta menulis tentang harapan dan cita-cita juga. Kami yang awalnya tidak paham sama sekali tentang cinta-cita, jadi tahu apa yang harus kami perjuangkan. Kata Bu Rahma lagi, kami boleh menjadi apapun asalkan bukan penjahat. Beliau juga bilang, jadi dokter itu boleh, tapi kalau niat jadi dokter adalah mencuri jantung pasien, itu tidak boleh, karena itu namanya juga penjahat. Haha Bu Rahma bisa melucu juga.
Itu tadi pengalaman saya bersekolah di pedalaman Ambon yang dapat saya ceritakan. Sampai jumpa lagi.”

Andini menyerahkan kertas tersebut pada Bu Agustin. Setelah beberapa menit membacanya, Bu Agustin tertarik dengan sosok Bu Rahma yang diceritakan Andini.

Bu Agustin : “Din, kamu ada nomor Bu Rahma atau telepon sekolahmu yang dulu?”
Andini : “Nomor Telepon Bu Rahma Bu, kalau sekolah saya tidak punya.”
Bu Agustin : “Baiklah Ibu minta nomor Bu Rahma.

Andini mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam tasnya, lalu mencatatkan nomor Bu Rahma pada sobekan kertas.

Malam harinya, Bu Agustin menelepon Bu Rahma. Bermaksud menyampaikan rasa bangganya.

BuRahma : “Assalamualaikum, hallo...”
Bu Agustin : “Waalaikumsalam, benar dengan Bu Rahma?”
Bu Rahma : “Iya benar, dengan siapa saya bicara? Ada yang bisa saya bantu?”
Bu Agustin : “Sebelumnya perkenalkan dulu Bu, saya Bu Agustin, Ibu guru Andini di Surabaya sekarang. Ibu Rahma masih ingat dengan murid Ibu yang bernama Andini bukan?”
Bu Rahma : “Oh begitu Bu Agustin. Iya, saya masih ingat, bagaimana perkembangannya?”
Bu Agustin : “Alhamdulillah Bu, kan Andini sudah berbekal ilmu banyak dari sekolah Ibu.”
Bu Rahma : “Ah Bu Agustin. Di sini kan hanya sekolah pedalaman saja. Kurang begitu maju.”
Bu Agustin : “Tapi Bu, ajaibnya prestasi Andini lumayan lho Bu, apalagi di bidang mengarang atau membuat puisi. Usut punya usut ternyata Ibu Rahma sudah mengajarkan setiap hari untuk mengarang. Andini cerita banyak soal Bu Rahma.”
Bu Rahma : “Astaga bocah itu. Iya saya selalu mengajarkan anak-anak untuk aktif menulis. Karena menurut sya, menulis itu proses penciptaan yang melibatkan kemampuan berpikir dan membaca dalam satu waktu sekaligus. Ibu menyuruh mereka untuk menulis keseharian, harapan, atau menceritakan sanak saudara masing-masing. Tapi bagusnya lagi, banyak dari mereka yang ternyata menulis tentang pelajaran yang baru mereka terima dari guru. Bukankah itu bentuk belajar yang efektif Bu?”
Bu Agustin : “Wah... keren sekali Bu. Kalau begitu bolehkah sya juga menerapkan cara seperti yang Ibu lakukan?”
Bu Rahma : “Dengan senang hati Bu Agustin. Semoga kita tetap berkomitmen menjadi guru-guru yang selalu memberikan hal terbaik untuk anak-anak didiknya.”
Bu Agustin : “Amin. Makasih Bu Rahma sudah berbagi ilmu dengan saya. Mohon maaf jika sudah mengganggu Ibu. Wassalamualaikum.”
Bu Rahma : “Sama-sama Bu, Semoga saling berkah. Amin. Waalaikumsalam.”

Ketekunan seorang murid tidak hanya karena kemampuan murid untuk tetap rajin belajar. Didikan guru dan kebiasaan positif turut mendukung tumbuh kembang anak.

0 Response to "Contoh Naskah Drama Tentang Pendidikan Untuk 3 Orang"

Posting Komentar